Jumat, 25 Februari 2022

Kisah Penuh Hikmah Guru Sholeh

 

Banyak orang memiliki pekerjaan atau profesi impian. Ada yang ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, atau guru. Ada banyak alasan untuk mengejar profesi ini, 

Pertama gemar membantu orang lain menjadi mengerti. merasa puas saat bisa membuat orang lain yang awalnya tidak bisa, kemudian menjadi bisa. Kata orang, itulah yang disebut passion. Passion bisa juga diartikan dengan panggilan jiwa atau panggilan hati. 

Kedua karena pahala yang “dihasilkan” dari pekerjaan tersebut. Sebagai seorang muslim, sabda Nabi Muhammad saw., “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara (yaitu): amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR Muslim no. 1631)

Syarat dikatakan Sholeh

1. bimaa Yurdin Rahmaan

2. bimaa Yunassyitul Ibaadah

3. Bimaa Yanfau Nnaas

4. Bimaa Yutsabbutl Ukhuwah

 

4 Kompetensi Guru 

Para Guru Shaleh

A. Contoh Rasulullah SAW Sosok Guru Pendidik yang Mengayomi

    Pribadi Rasulullah SAW sebagai seorang guru yang menjadi sumber pengetahuan, kiblatnya keteladanan, dan pembimbing yang bijak. Sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah beliau menjadi bukti kelengkapan menjadi seorang guru.

 

B. Sahabat Nabi 

    Menurut imam ulama hadis yaitu Al-Hakim yang menyusun kitab Al-Mustadrak pada zamannya menjelaskan, bahwa kelompok sahabat Nabi terdiri atas 12 kasta yaitu:

1. Sahabat Khulafa'ur Rasyidin

2. Sahabat yang Masuk Islam di Mekkah

3. Sahabat yang Ikut Berhijrah

4. Sahabat Kaum Anshar dalam Bai'at Aqabah Pertama

5. Sahabat Kaum Anshar dalam Bai'at Aqabah Kedua

6. Sahabat Kaum Muhajirin

7. Sahabat dalam Perang Badar

8. Sahabat yang Berhijrah antara Perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah

9. Sahabat yang Ikut Baiat Ridwan

10. Sahabat yang Masuk Islam Pasca Perjanjian Hudaibiyyah

11. Sahabat yang Masuk Islam Pasca Fathu Mekah

12. Sahabat Anak-anak yang Melihat Nabi setelah Fathu Makkah

 

C.  Tabi'in

  Di antara tabi'in yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu agama Islam ialah Sa'id bin Musayyab, Nafi' Maula bin Amr, Muhammad bin Sirin, Ibnu Syihab az-Zuhri, Sa'id bin Zubair al-Asadi al-Kufi dan Nu'man bin Sabit. Sa'id bin Musayyab lahir pada tahun 15 Hijriyah, tahun kedua pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dan wafat pada tahun 94 Hijriyah. Ayah dan kakeknya adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia terkenal karena kewarakan, kezuhudan dan keluasan ilmu pengetahuan di bidang hadis dan fikih

 


D. Imam Mazhab 

 

1. Salah satu kisah menarik dari Imam Abu Hanifah adalah saat beliau hendak mengisi majelis ilmu, beliau meminta kepada seorang karyawannya agar menjelaskan kepada pembeli tentang kondisi kain yang punya kualitas baik, serta kain yang punya cacat.

    Titah Imam Abu Hanifah ternyata tidak diindahkan karyawannya. Mendapati hal tersebut, Imam Abu Hanifah meminta agar seluruh hasil perniagaan hari itu disedekahkan. “Inilah salah satu sifat Wara’ dari Abu Hanifah yang patut kita contoh.” Jelas Ustadz Sulaiman.

 

2. Selanjutnya adalah kisah Imam yang terkenal dengan kitab Haditsnya al-Muwatta. Imam Malik bin Annas Rahimahullah, saat menjejak usia tujuh tahun telah menghafal Al-Qur’an. Setiap hendak berangkat untuk belajar kepada gurunya Abdurrahman bin Farrukh, Ibunya selalu merapikan pakainnya.

    “Hal inilah yang kurang dari orang tua zaman sekarang, yaitu mengajarkan anak mereka akhlaq yang baik. Anak usia di bawah tujuh tahun seharusnya diajarkan tentang akhlaq yang baik” keluh Ustadz Sulaiman Rasyid.

 

3. Tidak kalah menarik adalah kisah dari murid Imam Malik sendiri, yakni Muhammad bin Idris atau yang kita kenal dengan Imam Syafi’i. Pendiri mazhab syafi’i, yang saat ini menjadi tuntunan mayoritas penduduk di Indonesia, sejak usia tujuh tahun juga telah menghafal Al-Qur’an. Syafi’i Lahir di Gaza Palestina bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, yaitu 150 H atau 767 M.

    Pada usia 12 tahun, bersama ibunya, mereka hijrah ke Mekkah. Di sana Syafi’i kecil belajar sastra. Ia menghafal ribuan syair. Hingga suatu ketika ia diminta oleh seorang ustadz untuk berguru ke Madinah.

    “Pertama kali pertemuannya dengan Imam Malik, Syafi’i kecil yang saat itu ditemani oleh Gubernur Madinah menghadap kepada Imam Malik, dengan maksud hendak berguru. Namun permohonan itu tidak diindahkan oleh Imam Malik”, jelasnya.

    Sembari menarik jubah Imam Malik, Syafi’i menyampaikan tekadnya. Melihat raut wajah Syafi’i yang penuh semangat, Imam Malik akhinya mengizinkan ia berguru dengannya. “Bertakwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang penuh dengan dosa dan maksiat”, Pesannya.

 

4. kisah dari Imam Ahmad. Dikisahkan bahwa Imam Ahmad baru menikah setelah ibunya wafat, yaitu saat usianya yang ke-34 tahun. Perempuan yang dipilihnya pun perempuan dengan tampilan yang sederhana.

    “Mengapa Imam Ahmad menikahi perempuan yang tidak begitu elok rupanya?” tanya Ustad Sulaiman kepada jamaa’ah. “Karena aku tidak ingin fokusku terhadap ilmu, terganggu karenannya.” Demikian Jawaban Imam Malik, sebagaimana dikisahkan Ustadz Sulaiman Rasyid.

 

E. Ulama Nusantara

1. Syekh Nawawi al-Bantani

2. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

3. Syekh Muhammad Yasin al-Fadani

4. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

 

 

 


KISAH PENUH HIKMAH PARA GURU SHOLEH


Banyak orang memiliki pekerjaan atau profesi impian. Ada yang ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, atau guru. Ada banyak alasan untuk mengejar profesi ini, 

 

Pertama gemar membantu orang lain menjadi mengerti. merasa puas saat bisa membuat orang lain yang awalnya tidak bisa, kemudian menjadi bisa. Kata orang, itulah yang disebut passion. Passion bisa juga diartikan dengan panggilan jiwa atau panggilan hati. 

 

Kedua karena pahala yang “dihasilkan” dari pekerjaan tersebut. Sebagai seorang muslim, sabda Nabi Muhammad saw., “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara (yaitu): amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR Muslim no. 1631)

Syarat dikatakan Sholeh

1. bimaa Yurdin Rahmaan

2. bimaa Yunassyitul Ibaadah

3. Bimaa Yanfau Nnaas

4. Bimaa Yutsabbutl Ukhuwah

4 Kompetensi Guru 


 

Para Guru Shaleh

A. Contoh Rasulullah SAW Sosok Guru Pendidik yang Mengayomi

    Pribadi Rasulullah SAW sebagai seorang guru yang menjadi sumber pengetahuan, kiblatnya keteladanan, dan pembimbing yang bijak. Sifat siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah beliau menjadi bukti kelengkapan menjadi seorang guru.

 

B. Sahabat Nabi 

    Menurut imam ulama hadis yaitu Al-Hakim yang menyusun kitab Al-Mustadrak pada zamannya menjelaskan, bahwa kelompok sahabat Nabi terdiri atas 12 kasta yaitu:

1. Sahabat Khulafa'ur Rasyidin

2. Sahabat yang Masuk Islam di Mekkah

3. Sahabat yang Ikut Berhijrah

4. Sahabat Kaum Anshar dalam Bai'at Aqabah Pertama

5. Sahabat Kaum Anshar dalam Bai'at Aqabah Kedua

6. Sahabat Kaum Muhajirin

7. Sahabat dalam Perang Badar

8. Sahabat yang Berhijrah antara Perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah

9. Sahabat yang Ikut Baiat Ridwan

10. Sahabat yang Masuk Islam Pasca Perjanjian Hudaibiyyah

11. Sahabat yang Masuk Islam Pasca Fathu Mekah

12. Sahabat Anak-anak yang Melihat Nabi setelah Fathu Makkah

 

C.  Tabi'in

  Di antara tabi'in yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu agama Islam ialah Sa'id bin Musayyab, Nafi' Maula bin Amr, Muhammad bin Sirin, Ibnu Syihab az-Zuhri, Sa'id bin Zubair al-Asadi al-Kufi dan Nu'man bin Sabit. Sa'id bin Musayyab lahir pada tahun 15 Hijriyah, tahun kedua pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dan wafat pada tahun 94 Hijriyah. Ayah dan kakeknya adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia terkenal karena kewarakan, kezuhudan dan keluasan ilmu pengetahuan di bidang hadis dan fikih

  

 

D. Imam Mazhab 

 

1. Salah satu kisah menarik dari Imam Abu Hanifah adalah saat beliau hendak mengisi majelis ilmu, beliau meminta kepada seorang karyawannya agar menjelaskan kepada pembeli tentang kondisi kain yang punya kualitas baik, serta kain yang punya cacat.

    Titah Imam Abu Hanifah ternyata tidak diindahkan karyawannya. Mendapati hal tersebut, Imam Abu Hanifah meminta agar seluruh hasil perniagaan hari itu disedekahkan. “Inilah salah satu sifat Wara’ dari Abu Hanifah yang patut kita contoh.” Jelas Ustadz Sulaiman.

 

2. Selanjutnya adalah kisah Imam yang terkenal dengan kitab Haditsnya al-Muwatta. Imam Malik bin Annas Rahimahullah, saat menjejak usia tujuh tahun telah menghafal Al-Qur’an. Setiap hendak berangkat untuk belajar kepada gurunya Abdurrahman bin Farrukh, Ibunya selalu merapikan pakainnya.

    “Hal inilah yang kurang dari orang tua zaman sekarang, yaitu mengajarkan anak mereka akhlaq yang baik. Anak usia di bawah tujuh tahun seharusnya diajarkan tentang akhlaq yang baik” keluh Ustadz Sulaiman Rasyid.

 

3. Tidak kalah menarik adalah kisah dari murid Imam Malik sendiri, yakni Muhammad bin Idris atau yang kita kenal dengan Imam Syafi’i. Pendiri mazhab syafi’i, yang saat ini menjadi tuntunan mayoritas penduduk di Indonesia, sejak usia tujuh tahun juga telah menghafal Al-Qur’an. Syafi’i Lahir di Gaza Palestina bertepatan dengan wafatnya Imam Abu Hanifah, yaitu 150 H atau 767 M.

    Pada usia 12 tahun, bersama ibunya, mereka hijrah ke Mekkah. Di sana Syafi’i kecil belajar sastra. Ia menghafal ribuan syair. Hingga suatu ketika ia diminta oleh seorang ustadz untuk berguru ke Madinah.

    “Pertama kali pertemuannya dengan Imam Malik, Syafi’i kecil yang saat itu ditemani oleh Gubernur Madinah menghadap kepada Imam Malik, dengan maksud hendak berguru. Namun permohonan itu tidak diindahkan oleh Imam Malik”, jelasnya.

    Sembari menarik jubah Imam Malik, Syafi’i menyampaikan tekadnya. Melihat raut wajah Syafi’i yang penuh semangat, Imam Malik akhinya mengizinkan ia berguru dengannya. “Bertakwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang penuh dengan dosa dan maksiat”, Pesannya.

 

4. kisah dari Imam Ahmad. Dikisahkan bahwa Imam Ahmad baru menikah setelah ibunya wafat, yaitu saat usianya yang ke-34 tahun. Perempuan yang dipilihnya pun perempuan dengan tampilan yang sederhana.

    “Mengapa Imam Ahmad menikahi perempuan yang tidak begitu elok rupanya?” tanya Ustad Sulaiman kepada jamaa’ah. “Karena aku tidak ingin fokusku terhadap ilmu, terganggu karenannya.” Demikian Jawaban Imam Malik, sebagaimana dikisahkan Ustadz Sulaiman Rasyid.

 

E. Ulama Nusantara Pengajar di Arab luar Negeri


1. Syekh Nawawi al-Bantani

2. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

3. Syekh Muhammad Yasin al-Fadani

4. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari

 

 

 


Dengan pelaksanaan Ujian Madrasah (UM) yang di selenggarakan oleh lembaga masing - masing tentunya pembuatan soalnya juga dibuat oleh lembaga tersendiri, maka untuk itu kami mencoba membagikan contoh soal mungkin bisa menjadi refrensi untuk guru - guru membuat soal untuk siswa.


Ujian Madrasah (UM) meliputi seluruh mata pelajaran yang diajarkan di kelas akhir pada satuan pendidikan, baik kelompok mata pelajaran wajib maupun muatan lokal. UM diikuti oleh peserta didik pada akhir jenjang pendidikan pada Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) sebagai salah satu persyaratan untuk penentuan kelulusan. 

Hal tersebut menegaskan bahwa pemerintah memberi wewenang penuh kepada satuan pendidikan dalam hal ini adalah madrasah untuk menyelenggarakan ujian pada akhir jenjang pendidikan untuk mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan bagi peserta didiknya. 

Dalam rangka standarisasi penyelenggaraan Ujian Madrasah (UM), maka Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyusun dan menetapkan Prosedur Operasional Standar Penyelenggaraan Ujian Madrasah sebagai panduan bagi pengelola madrasah dan pemangku kepentingan lainnya dalam penyelenggaraan Ujian Madrasah.

<iframe src="https://drive.google.com/file/d/1k8-x6XVBerzKhl01hJx1GEzsb66Rny55/preview" width="640" height="480" allow="autoplay"></iframe>

Featured post

Kementerian Agama Raih Predikat Tertinggi IKADA dengan Nilai 98,86

Kementerian Agama kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih predikat tertinggi dalam Indeks Kualitas Data Aparatur Sipil Negara...