Banyak orang memiliki pekerjaan
atau profesi impian. Ada yang ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, atau guru.
Ada banyak alasan untuk mengejar profesi ini,
Pertama gemar membantu orang lain
menjadi mengerti. merasa puas saat bisa membuat orang lain yang awalnya tidak
bisa, kemudian menjadi bisa. Kata orang, itulah yang disebut passion. Passion
bisa juga diartikan dengan panggilan jiwa atau panggilan hati.
Kedua karena pahala yang
“dihasilkan” dari pekerjaan tersebut. Sebagai seorang muslim, sabda Nabi Muhammad
saw., “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga
perkara (yaitu): amal jariah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.” (HR
Muslim no. 1631)
Syarat dikatakan Sholeh
1. bimaa Yurdin Rahmaan
2. bimaa Yunassyitul Ibaadah
3. Bimaa Yanfau Nnaas
4. Bimaa Yutsabbutl Ukhuwah
4 Kompetensi Guru
Para Guru Shaleh
A. Contoh Rasulullah SAW Sosok
Guru Pendidik yang Mengayomi
Pribadi
Rasulullah SAW sebagai seorang guru yang menjadi sumber pengetahuan, kiblatnya
keteladanan, dan pembimbing yang bijak. Sifat siddiq, amanah, tabligh, dan
fathonah beliau menjadi bukti kelengkapan menjadi seorang guru.
B. Sahabat Nabi
Menurut imam
ulama hadis yaitu Al-Hakim yang menyusun kitab Al-Mustadrak pada zamannya
menjelaskan, bahwa kelompok sahabat Nabi terdiri atas 12 kasta yaitu:
1. Sahabat Khulafa'ur Rasyidin
2. Sahabat yang Masuk Islam di
Mekkah
3. Sahabat yang Ikut Berhijrah
4. Sahabat Kaum Anshar dalam
Bai'at Aqabah Pertama
5. Sahabat Kaum Anshar dalam
Bai'at Aqabah Kedua
6. Sahabat Kaum Muhajirin
7. Sahabat dalam Perang Badar
8. Sahabat yang Berhijrah antara
Perang Badar dan Perjanjian Hudaibiyyah
9. Sahabat yang Ikut Baiat Ridwan
10. Sahabat yang Masuk Islam
Pasca Perjanjian Hudaibiyyah
11. Sahabat yang Masuk Islam
Pasca Fathu Mekah
12. Sahabat Anak-anak yang
Melihat Nabi setelah Fathu Makkah
C. Tabi'in
Di antara tabi'in yang
mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu agama Islam ialah Sa'id bin
Musayyab, Nafi' Maula bin Amr, Muhammad bin Sirin, Ibnu Syihab az-Zuhri, Sa'id
bin Zubair al-Asadi al-Kufi dan Nu'man bin Sabit. Sa'id bin Musayyab lahir pada
tahun 15 Hijriyah, tahun kedua pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dan
wafat pada tahun 94 Hijriyah. Ayah dan kakeknya adalah sahabat Nabi Muhammad
SAW. Ia terkenal karena kewarakan, kezuhudan dan keluasan ilmu pengetahuan di
bidang hadis dan fikih
D. Imam Mazhab
1. Salah satu kisah menarik dari
Imam Abu Hanifah adalah saat beliau hendak mengisi majelis ilmu, beliau meminta
kepada seorang karyawannya agar menjelaskan kepada pembeli tentang kondisi kain
yang punya kualitas baik, serta kain yang punya cacat.
Titah Imam Abu
Hanifah ternyata tidak diindahkan karyawannya. Mendapati hal tersebut, Imam Abu
Hanifah meminta agar seluruh hasil perniagaan hari itu disedekahkan. “Inilah
salah satu sifat Wara’ dari Abu Hanifah yang patut kita contoh.” Jelas Ustadz
Sulaiman.
2. Selanjutnya adalah kisah Imam
yang terkenal dengan kitab Haditsnya al-Muwatta. Imam Malik bin Annas Rahimahullah,
saat menjejak usia tujuh tahun telah menghafal Al-Qur’an. Setiap hendak
berangkat untuk belajar kepada gurunya Abdurrahman bin Farrukh, Ibunya selalu
merapikan pakainnya.
“Hal inilah
yang kurang dari orang tua zaman sekarang, yaitu mengajarkan anak mereka akhlaq
yang baik. Anak usia di bawah tujuh tahun seharusnya diajarkan tentang akhlaq
yang baik” keluh Ustadz Sulaiman Rasyid.
3. Tidak kalah menarik adalah
kisah dari murid Imam Malik sendiri, yakni Muhammad bin Idris atau yang kita
kenal dengan Imam Syafi’i. Pendiri mazhab syafi’i, yang saat ini menjadi
tuntunan mayoritas penduduk di Indonesia, sejak usia tujuh tahun juga telah
menghafal Al-Qur’an. Syafi’i Lahir di Gaza Palestina bertepatan dengan wafatnya
Imam Abu Hanifah, yaitu 150 H atau 767 M.
Pada usia 12
tahun, bersama ibunya, mereka hijrah ke Mekkah. Di sana Syafi’i kecil belajar
sastra. Ia menghafal ribuan syair. Hingga suatu ketika ia diminta oleh seorang
ustadz untuk berguru ke Madinah.
“Pertama kali
pertemuannya dengan Imam Malik, Syafi’i kecil yang saat itu ditemani oleh
Gubernur Madinah menghadap kepada Imam Malik, dengan maksud hendak berguru.
Namun permohonan itu tidak diindahkan oleh Imam Malik”, jelasnya.
Sembari
menarik jubah Imam Malik, Syafi’i menyampaikan tekadnya. Melihat raut wajah
Syafi’i yang penuh semangat, Imam Malik akhinya mengizinkan ia berguru
dengannya. “Bertakwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat. Karena
ilmu adalah cahaya dan cahaya tidak akan masuk ke dalam hati yang penuh dengan
dosa dan maksiat”, Pesannya.
4. kisah dari Imam Ahmad.
Dikisahkan bahwa Imam Ahmad baru menikah setelah ibunya wafat, yaitu saat
usianya yang ke-34 tahun. Perempuan yang dipilihnya pun perempuan dengan
tampilan yang sederhana.
“Mengapa Imam
Ahmad menikahi perempuan yang tidak begitu elok rupanya?” tanya Ustad Sulaiman
kepada jamaa’ah. “Karena aku tidak ingin fokusku terhadap ilmu, terganggu
karenannya.” Demikian Jawaban Imam Malik, sebagaimana dikisahkan Ustadz
Sulaiman Rasyid.
E. Ulama Nusantara
1. Syekh Nawawi al-Bantani
2. Syekh Ahmad Khatib
al-Minangkabawi
3. Syekh Muhammad Yasin al-Fadani
4. Syekh Muhammad Arsyad
al-Banjari