Mengajar di masa Covid-19 adalah
pengalaman yang penuh warna. Kami dipaksa keluar dari zona nyaman. Tidak ada
lagi metode konvensional semata; guru harus kreatif dengan media sederhana,
memanfaatkan teknologi seadanya, dan tetap memastikan anak-anak tidak
kehilangan semangat belajar.
Sebagai guru, saya belajar bahwa
mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga menjaga mental siswa
tetap kuat, memberikan motivasi, dan mendampingi mereka menghadapi rasa takut
serta keterbatasan. Dalam situasi itulah saya merasakan makna sejati dedikasi:
mengabdi sepenuh hati meski dalam kondisi serba terbatas.
Tugas di Malinau tidaklah mudah.
Fasilitas sekolah terbatas, jaringan internet sering bermasalah, dan sebagian
siswa berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi pas-pasan. Bahkan ada
yang terpaksa membantu orang tua bekerja sehingga kadang terlambat atau absen
belajar.
Namun justru di sanalah letak
perjuangan. Menjadi guru di daerah baru berkembang bukan hanya mengajar, tetapi
juga berperan sebagai motivator, sahabat, sekaligus penggerak mimpi. Saya
sering berkata kepada siswa, “Keterbatasan bukan penghalang, justru alasan
untuk lebih berjuang.”
Selain itu, ada satu tantangan besar
yang hampir selalu hadir, yaitu banjir. Malinau adalah daerah dengan curah
hujan tinggi, sehingga banjir bisa datang sewaktu-waktu. Ketika air naik, akses
ke sekolah terganggu. Tidak jarang siswa harus berjalan dengan kaki terendam
air, bahkan ada yang terpaksa tidak hadir karena rumahnya terisolasi banjir.
Bagi guru, kondisi
ini menuntut kesabaran ekstra. Jadwal belajar bisa berantakan, kelas yang sudah
disiapkan dengan baik terkadang harus ditunda, bahkan fasilitas sekolah bisa
rusak terendam air. Namun, semua itu tidak mematahkan semangat kami. Justru, banjir
mengajarkan arti ketangguhan—bahwa pendidikan harus tetap berjalan meskipun
dalam keadaan sulit.
Saya sendiri selalu
mengingatkan siswa bahwa banjir bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru
dari keterbatasan ini lahir jiwa pantang menyerah. Saya percaya anak-anak yang
tumbuh dengan pengalaman seperti ini akan memiliki mental baja untuk menghadapi
masa depan.
Di balik semua keterbatasan, saya bangga karena apa yang saya lakukan
sejalan dengan visi Kabupaten Malinau: mewujudkan sumber daya manusia yang
unggul. Program Wajib Belajar Malinau Maju (WMM) dan Desa Sarjana Unggul (DSU)
menjadi inspirasi bagi saya dalam mendidik.
Wajib Belajar Malinau Maju (WMM): Bagi saya, setiap jam pelajaran yang
saya berikan adalah kontribusi nyata agar anak-anak Malinau tidak putus
sekolah. Kehadiran kami para guru di kelas adalah bagian kecil dari perjuangan
besar WMM: memastikan semua anak mendapat hak pendidikan bermutu, meski harus
berjuang melawan banjir dan keterbatasan.
Desa Sarjana Unggul (DSU): Saya yakin salah satu pintu menuju desa sarjana
adalah madrasah. Tugas saya bukan hanya mengajar, tetapi juga menumbuhkan
cita-cita besar di hati siswa. Saya ingin setiap anak berani bermimpi
melanjutkan kuliah, bahkan hingga keluar daerah. Maka sering saya sisipkan
cerita tentang alumni yang sukses, agar mereka yakin bahwa anak desa pun bisa
jadi sarjana unggul.
Dengan begitu, profesi saya sebagai guru bukan hanya pekerjaan rutin,
melainkan bagian dari pembangunan SDM Malinau.
Menjadi guru di Malinau, apalagi dalam suasana pandemi dan tantangan
banjir yang hampir setiap saat datang, mengajarkan saya bahwa dedikasi adalah
kunci. Saya percaya, jika guru, siswa, orang tua, dan pemerintah berjalan
bersama, maka mimpi besar Kabupaten Malinau untuk melahirkan generasi unggul
akan terwujud.
Saya masih ingat satu pengalaman yang begitu berkesan ketika mengajar mata
pelajaran IPS dengan materi tentang negara-negara di dunia. Saya meminta siswa
menuliskan 10 nama negara yang mereka ketahui di buku masing-masing. Setelah
itu, saya meminta mereka melingkari satu negara yang paling ingin mereka
tempati untuk kuliah.
Awalnya saya kira mereka akan menjawab asal-asalan. Namun, yang terjadi
sungguh di luar dugaan. Ada yang menuliskan Indonesia, Malaysia, Jepang,
Amerika, Mesir, hingga Turki. Saat diminta memilih, ada yang melingkari Mesir,
sambil berkata, “Pak, saya ingin belajar agama di sana.” Ada juga yang memilih Jepang,
karena ingin tahu teknologi. Bahkan ada yang melingkari Amerika, dengan polos
berkata, “Karena saya ingin bisa bahasa Inggris seperti di film.”
Momen itu membuat saya terharu. Di tengah keterbatasan, banjir, dan
fasilitas seadanya, ternyata anak-anak madrasah di Malinau memiliki mimpi besar.
Mereka tidak hanya ingin sekolah, tetapi juga bercita-cita melanjutkan kuliah
hingga keluar negeri. Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa tugas saya bukan
hanya mengajar materi, tetapi juga menyalakan api harapan di dalam diri mereka.
Saya hanya seorang guru biasa, tapi saya ingin menjadi bagian dari
sejarah: sejarah bagaimana pendidikan di Malinau terus bangkit, melahirkan
anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan siap membangun daerahnya. Dengan sinergi
dan kerja keras, madrasah di Malinau bukan hanya tempat belajar, tetapi juga cahaya
yang menerangi jalan menuju Desa Sarjana Unggul dan Malinau Maju.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar