Minggu, 28 September 2025

Tugas Baru Berawal dari Covid: Refleksi Seorang Guru Madrasah di Daerah Baru Berkembang

Lima tahun yang lalu, Pandemi Covid-19 telah mengubah wajah pendidikan di seluruh dunia. Bagi seorang guru, situasi ini tidak hanya menantang, tetapi juga penuh pelajaran hidup. Saya sendiri merasakan itu ketika harus pindah tugas dari MTs Negeri Tarakan ke MTs Negeri Malinau pada 20 Juli 2020, itu berarti awal babak baru—beradaptasi dengan lingkungan kerja, murid, dan tantangan yang sama sekali berbeda.


Mengajar di masa Covid-19 adalah pengalaman yang penuh warna. Kami dipaksa keluar dari zona nyaman. Tidak ada lagi metode konvensional semata; guru harus kreatif dengan media sederhana, memanfaatkan teknologi seadanya, dan tetap memastikan anak-anak tidak kehilangan semangat belajar.

Sebagai guru, saya belajar bahwa mengajar bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga menjaga mental siswa tetap kuat, memberikan motivasi, dan mendampingi mereka menghadapi rasa takut serta keterbatasan. Dalam situasi itulah saya merasakan makna sejati dedikasi: mengabdi sepenuh hati meski dalam kondisi serba terbatas.

Tugas di Malinau tidaklah mudah. Fasilitas sekolah terbatas, jaringan internet sering bermasalah, dan sebagian siswa berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi pas-pasan. Bahkan ada yang terpaksa membantu orang tua bekerja sehingga kadang terlambat atau absen belajar.

Namun justru di sanalah letak perjuangan. Menjadi guru di daerah baru berkembang bukan hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai motivator, sahabat, sekaligus penggerak mimpi. Saya sering berkata kepada siswa, “Keterbatasan bukan penghalang, justru alasan untuk lebih berjuang.”

Selain itu, ada satu tantangan besar yang hampir selalu hadir, yaitu banjir. Malinau adalah daerah dengan curah hujan tinggi, sehingga banjir bisa datang sewaktu-waktu. Ketika air naik, akses ke sekolah terganggu. Tidak jarang siswa harus berjalan dengan kaki terendam air, bahkan ada yang terpaksa tidak hadir karena rumahnya terisolasi banjir.

Bagi guru, kondisi ini menuntut kesabaran ekstra. Jadwal belajar bisa berantakan, kelas yang sudah disiapkan dengan baik terkadang harus ditunda, bahkan fasilitas sekolah bisa rusak terendam air. Namun, semua itu tidak mematahkan semangat kami. Justru, banjir mengajarkan arti ketangguhan—bahwa pendidikan harus tetap berjalan meskipun dalam keadaan sulit.

Saya sendiri selalu mengingatkan siswa bahwa banjir bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru dari keterbatasan ini lahir jiwa pantang menyerah. Saya percaya anak-anak yang tumbuh dengan pengalaman seperti ini akan memiliki mental baja untuk menghadapi masa depan.

Di balik semua keterbatasan, saya bangga karena apa yang saya lakukan sejalan dengan visi Kabupaten Malinau: mewujudkan sumber daya manusia yang unggul. Program Wajib Belajar Malinau Maju (WMM) dan Desa Sarjana Unggul (DSU) menjadi inspirasi bagi saya dalam mendidik.

Wajib Belajar Malinau Maju (WMM): Bagi saya, setiap jam pelajaran yang saya berikan adalah kontribusi nyata agar anak-anak Malinau tidak putus sekolah. Kehadiran kami para guru di kelas adalah bagian kecil dari perjuangan besar WMM: memastikan semua anak mendapat hak pendidikan bermutu, meski harus berjuang melawan banjir dan keterbatasan.

Desa Sarjana Unggul (DSU): Saya yakin salah satu pintu menuju desa sarjana adalah madrasah. Tugas saya bukan hanya mengajar, tetapi juga menumbuhkan cita-cita besar di hati siswa. Saya ingin setiap anak berani bermimpi melanjutkan kuliah, bahkan hingga keluar daerah. Maka sering saya sisipkan cerita tentang alumni yang sukses, agar mereka yakin bahwa anak desa pun bisa jadi sarjana unggul.

Dengan begitu, profesi saya sebagai guru bukan hanya pekerjaan rutin, melainkan bagian dari pembangunan SDM Malinau.

Menjadi guru di Malinau, apalagi dalam suasana pandemi dan tantangan banjir yang hampir setiap saat datang, mengajarkan saya bahwa dedikasi adalah kunci. Saya percaya, jika guru, siswa, orang tua, dan pemerintah berjalan bersama, maka mimpi besar Kabupaten Malinau untuk melahirkan generasi unggul akan terwujud.

Saya masih ingat satu pengalaman yang begitu berkesan ketika mengajar mata pelajaran IPS dengan materi tentang negara-negara di dunia. Saya meminta siswa menuliskan 10 nama negara yang mereka ketahui di buku masing-masing. Setelah itu, saya meminta mereka melingkari satu negara yang paling ingin mereka tempati untuk kuliah.

Awalnya saya kira mereka akan menjawab asal-asalan. Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan. Ada yang menuliskan Indonesia, Malaysia, Jepang, Amerika, Mesir, hingga Turki. Saat diminta memilih, ada yang melingkari Mesir, sambil berkata, “Pak, saya ingin belajar agama di sana.” Ada juga yang memilih Jepang, karena ingin tahu teknologi. Bahkan ada yang melingkari Amerika, dengan polos berkata, “Karena saya ingin bisa bahasa Inggris seperti di film.”

Momen itu membuat saya terharu. Di tengah keterbatasan, banjir, dan fasilitas seadanya, ternyata anak-anak madrasah di Malinau memiliki mimpi besar. Mereka tidak hanya ingin sekolah, tetapi juga bercita-cita melanjutkan kuliah hingga keluar negeri. Sejak saat itu, saya semakin yakin bahwa tugas saya bukan hanya mengajar materi, tetapi juga menyalakan api harapan di dalam diri mereka.

Saya hanya seorang guru biasa, tapi saya ingin menjadi bagian dari sejarah: sejarah bagaimana pendidikan di Malinau terus bangkit, melahirkan anak-anak yang cerdas, berakhlak, dan siap membangun daerahnya. Dengan sinergi dan kerja keras, madrasah di Malinau bukan hanya tempat belajar, tetapi juga cahaya yang menerangi jalan menuju Desa Sarjana Unggul dan Malinau Maju.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Featured post

Kementerian Agama Raih Predikat Tertinggi IKADA dengan Nilai 98,86

Kementerian Agama kembali menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih predikat tertinggi dalam Indeks Kualitas Data Aparatur Sipil Negara...